Benarkah Ada 'Tambahan' dalam Alquran?

Agama  

Yang namanya tukang buzzer, apa lagi pekerjaannya jika bukan menimbulkan kegelisahan di masyarakat. Belakangan, salah satu di antara mereka menyarankan bahwa Alquran yang beredar di kalangan umat Islam saat ini bisa jadi sudah mengandung tambahan-tambahan yang diimbuhkan oleh para khalifah setelah Rasulullah wafat.

Bagi umat Islam, komentar tersebut tentu sangat menyinggung. Adalah salah satu kewajiban bagi umat Islam untuk meyakini bahwa Alquran adalah sepenuhnya kata-kata dari Allah yang telah dijamin terjaga dari penambahan maupun pengurangan. Meyakini sebaliknya adalah bentuk pengingkaran yang boleh jadi berujung kekafiran.

Dalam kasus Alquran, tak seperti kitab-kitab suci lainnya, klaim itu didukung penuh dengan fakta-fakta sejarah, bahkan temuan empiris. Willfred Cantwell Smith, seorang ahli sejarah agama-agama menuturkan dalam bukunya What is Scripture (1993), sejauh ini tak ada satupun teori sejarawan Barat yang berhasil secara ilmiah menyangkal ketakberubahan Alquran sejak zaman Rasulullah.

Scroll untuk membaca

Scroll untuk membaca

Naskah Alquran tertua yang disimpan di Universitas Birmingham, Inggris. (Dok Birmingham University)
Naskah Alquran tertua yang disimpan di Universitas Birmingham, Inggris. (Dok Birmingham University)

Menurut Smith, dokumen-dokumen absah terdahulu mencatat keunikan Alquran tersebut. Jika kitab-kitab lain terbentuk dan disusun serta dipakemkan susunannya seiring mengentalnya komunitas-komunitas agama tertentu, Alquran justru yang sejak awal membentuk komunitas yang meninggikannya.

Islam, dalam hal ini, kata Smith, adalah sebenar-benarnya 'Agama Kitab". Seluruh tradisi kitabiah terdahulu, mencapai puncak pencapaiannya dalam Alquran. Tradisi penulisan kitab dalam sejarah Judeo-Kristiani serta tradisi penyampaian secara oral di agama Hindu-Buddha dan Zoroaster terkulminasi dalam Alquran. Smith menekankan, tak ada lagi perkembangan signifikan kitab suci umat manusia setelah turunnya Alquran.

Sejarawan Muslim, merujuk Profesor Ingrid Mattson dalam bukunya The Story of the Qur'an (2008), mencatat bahwa yang dilakukan para pengumpul Alquran dan khalifah sepanjang sejarah hanya memperjelas bagaimana Alquran dibaca. Diantaranya pembedaan huruf untuk menegaskan dialek Quraish yang dilakukan pada masa Khalifah Utsman bin Affan (23-35 Hijriyah), lalu penambahan tanda baca (i'rab) pada tiap kalimat dalam bentuk titik untuk menghindari kesalahan membaca pada masa Muawiyah bin Abi Sufyan (40 H), dan penambahan titik sebagai pembeda huruf pada masa Abdul Malik bin Marwan (65 H).

Kegiatan menebalkan Alquran pada acara Geulisan (Gerakan Urang Nulisan Alquran) di Kota Bandung, Rabu (22/9/2021). (Edi Yusuf/Republika)
Kegiatan menebalkan Alquran pada acara Geulisan (Gerakan Urang Nulisan Alquran) di Kota Bandung, Rabu (22/9/2021). (Edi Yusuf/Republika)

Pada 70 H, ahli bahasa Khalil bin Ahmad al-Farahidy memerkenalkan tanda baris dhamah, fathah, kasrah, dan sukun sebagai penegas vokalisasi. Selanjutnya pada masa Khalifah Abbasiyah diperkenalkan tanda-tanda untuk menegaskan tajwid alias cara yang benar melafalkan Alquran.

Artinya, bukannya penambahan; para ulama, ahli Alquran, dan khalifah-khalifah tersebut justru menjaga agar Alquran dibaca persis seperti dibaca pada masa Rasulullah. Seluruh perkembangan tanda baca itu, selain penanda tajwid, terjadi hanya setengah abad setelah Rasulullah wafat. Dengan penjagaan cara membaca itu, kata Ingrid Mattson, semua orang Islam yang membaca Alquran bisa tersambung isnadnya sampai ke masa Rasulullah.

Pada akhirnya, bukti empiris paling kuat bahwa Alquran tak berubah isinya sejak masa Rasulullah adalah perkamen yang ditemukan Alphonse Mingana di Sanaa, Suriah pada 1920-an. Perkamen-perkamen dari kulit binatang itu bertuliskan ayat 17-31 surah al-Kahfi, ayat 91-98 Surah Maryam, dan 40 ayat pertama Surah Taaha.

Pada 2015, Universitas Birmingham di Inggris yang menyimpan perkamen tersebut menguji penanggalan karbon perkamen-perkamen itu dan menyimpulkan asalnya dari sekitar tahun 568 sampai 645 masehi atau 56 tahun sebelum Hijriyah hingga 25 Hijriyah.

Pengujian selanjutnya pada 2017 menyimpulkan juga bahwa naskah Alquran tersebut bukan palimpaset. Artinya, tak ada tulisan sebelumnya yang dihapus di perkamen itu. Ini menunjukkan bahwa usia tulisan naskah Alquran serupa dengan usia perkamen.

Hasil multi spectral-imaging menunjukkan naskah Alquran di Universitas Birmingham bukan palimpaset. (www.birmingham.ac.uk)
Hasil multi spectral-imaging menunjukkan naskah Alquran di Universitas Birmingham bukan palimpaset. (www.birmingham.ac.uk)

Yang signifikan, naskah yang kemungkinan dari masa Khalifah Utsman bin Affan atau lebih tua itu sama sekali tak berbeda kandungannya dengan Alquran yang dibaca Muslim saat ini. Hanya ada variasi penanda bacaan dan penegas huruf.

Isi sesuai dengan riwayat di tradisi Islam bahwa Alquran mulai ditulis secara berserak di kulit kayu, tulang, dan perkamen pada pasa Rasulullah, kemudian dikumpulkan dalam satu mushaf pada masa Khalifah Abu Bakar dan akhrinya diseragamkan dialeknya pada masa Utsman bin Affan.

Artinya, menurut profesor Bahasa Arab di American University of Sharjah Joseph EB Lumbard, orang-orang yang skeptis harus meninggalkan syakwasangka mereka terhadap Alquran. Seluruh catatan ulama-ulama dan sejarawah Muslim tentang sejarah penyusunan dan penulisan Alquran, menurut Lumbard, absah sepenuhnya secara ilmiah. Alquran terbukti selalu terjaga keasliannya sejak masa-masa paling awal Islam.

Berita Terkait

Image

Bagaimana Islam Mendorong Sains?

Image

Saat Ilmuwan Barat Belajar dari Muslim

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

Tentang sejarah Tanah Air, dunia, dan peradaban Islam.

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

Kategori

× Image