Ramadhan, Saat Umat Islam Selamat dari Kepunahan

Agama  

Bukan rahasia, pembaca yang budiman, bahwa Bulan Ramadhan yang sebentar lagi tiba adalah saat-saat yang dinantikan dan dimuliakan umat Islam. Bulan ini bukan saja signifikan secara spiritual. Secara historis, dalam sejumlah kesempatan umat Islam juga berhasil dengan gemilang menyelamatkan keberadaan komunitas dan agama mereka pada bulan ini.

Pada 17 Ramadhan tahun kedua Hijriyah atau bertepatan dengan 13 Maret 624 Masehi, misalnya, pasukan Islam dalam jumlah jauh lebih kecil berhadapan dengan pasukan Quraisy di Badr. Sekitar 300 personil pasukan dari Madinah kala itu berhadapan dengan seribu dari Makkah.

Ilustrasi Perang Badr. (public domains)
Ilustrasi Perang Badr. (public domains)

Menjelang pertempuran yang di atas kertas sukar dimenangkan umat Islam itu, Rasulullah SAW berdoa. “Allahumma ya Allah, orang-orang Quraisy ini sekarang datang dengan segala kecongkakannya. (Kedatangannya) hendak mendustakan Rasul-Mu. Ya Allah, berikan pertolongan-Mu juga yang Engkau janjikan padaku. Ya Allah, jika pasukan ini sekarang binasa maka tiada lagi ada yang beribadah kepada-Mu,” ujar Rasulullah meminta seperti dicatat berbagai sirah.

Scroll untuk membaca

Scroll untuk membaca

Bagaimanapun, pasukan Madinah kemudian memenangkan pertempuran tersebut. Sejumlah saksi mata menuturkan bagaimana semacam ada kekuatan tak terlihat yang terlihat menghabisi pasukan Makkah. Dari pertempuran itu, keberadaan komunitas Muslim di Madinah kian tegak dan terlindungi dari kemusnahan.

Sementara pada Ramadhan 658 H atau bertepatan dengan Agustus-September 1260 M, ancaman yang dihadapi umat Islam jauh lebih besar. Sejarawan Islam David W Tschanz menuturkan di majalah Aramco World, empat tahun sebelum itu panglima Mongol Hulagu Khan bersama sekitar 300 ribu pasukannya menebar teror dari Asia Timur dan merangsek terus ke barat. Satu per satu, kota-kota Muslim dihancurkan dan penduduknya dibantai.

Benteng Alamut, markas para Hasishin di wilayah Iran saat ini jadi korban pertama. Kemudian Baghdad, permata peradaban Islam, tak selamat. Dibantai penduduknya, dan dihancurkan buku-bukunya, ditenggelamkan ke Sungai Tigris hingga aliran air nya menghitam oleh tinta. Aleppo dan Damaskus menyusul kemudian.

Ilustrasi penghancuran Baghdad oleh pasukan Hulagu Khan. (wikicommons)
Ilustrasi penghancuran Baghdad oleh pasukan Hulagu Khan. (wikicommons)

Pada akhirnya, pasukan raksasa itu menyasar Kairo yang merupakan kota utama umat Islam dan dikuasai para Mamluk. Pada awal 1260, utusan Hulagu Khan membawa pesan untuk Sultan Almuzaffar Saifuddin Qutuz:

"Kami telah menaklukkan area yang luas, membantai semua penduduknya. engkau tak bisa melarikan diri dari teror pasukan kami.... Benteng-benteng tak akan menyelamatkanmu, tak ada pasukan yang bisa menghentikan kami. Doa pada tuhanmu tak ada dampaknya pada kami. Kami tak punya belas kasihan, hanya yang memohon perlindungan kami yang akan selamat... Menyerahlah jika tak ingin menghadapi bencana. Kami akan menghancurkan masjid-masjidmu dan menunjukkan kelemahan tuhanmu, kemudian akan kami bunuh anak-anak dan orang tua semuanya," kata utusan itu pada Sultan Qutuz.

Bukannya ketakutan, Sang Sultan bergeming. Ia penggal utusan yang lancang itu.

Hulagu pun bersiap menyerang. Dengan pasukan Mamluk sejumlah 20 ribu saja, perimbangannya adalah 15 Mongol melawan satu Muslim. "Dunia Islam berdiri berhadap-hadapan dengan kepunahan," ujar sejarawan lainnya, Prof Nazeer Ahmad.

Namun takdirnya tak demikian. Pada saat bersamaan, pimpinan Mongol Mongke Khan tewas. Sesuai tradisi, Hulagu harus pulang melayat saudaranya tersebut. Ia kemudian membawa pasukannya dan menyisakan 20.000 di Suriah yang diyakini cukup untuk menaklukkan Kairo. Kitbuqa, seorang Kristen Nestorian yang bersekutu dengan Mongol jadi pemimpinnya.

Pasukan Mamluk. (wikicommons)
Pasukan Mamluk. (wikicommons)

Sultan Qutuz melihat kesempatan, kemudian merapatkan barisan pada Juli 1260. Pada 3 September, bertepatan dengan 25 Ramadhan, pasukannya yang dipimpin Zahiruddin Baibars bertemu pasukan Mongol di kawasan Ain Jalut di dekat Palestina saat ini. Dengan taktik cemerlang, pasukan Mongol berhasil dipukul mundur, dan Kitbuqa dibunuh. Untuk pertama kalinya, pasukan Mongol berhasil secara permanen dikalahkan.

David W Tschanz menekankan bahwa tanpa kemenangan itu, sejarah pasti jadi lain ceritanya. Tak hanya menyelamatkan kelangsungan umat Islam, peperangan itu juga mencegah Mongol merangsek kian ke barat hingga ke Eropa, mengepung benua itu dari Polandia hingga Iberia. Dunia yang kita tinggali akan sangat berbeda jika pertempuran di Ain Jalut tersebut tak dimenangkan Muslim.

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

Tentang sejarah Tanah Air, dunia, dan peradaban Islam.

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

Kategori

× Image