Bung Karno pun Menolak Klenik Soal Hujan

Sejarah  

Karena asosiasi mistis yang disematkan sejumlah pihak pada Presiden Pertama RI, Ir Sukarno, mudah mengira bahwa beliau dekat dengan yang berbau klenik. Namun kisah-kisah yang dituturkan orang-orang dekatnya dan tuturannya sendiri justru menggambarkan sebaliknya.

Alkisah, pada 1962 Indonesia tengah dilanda kemarau yang cukup panjang. Di tengah kondisi itu, seperti dituturkan ajudan Bung Karno, Bambang Widjanarko, dalam "Sewindu Dekat Bung Karno", datang seorang pria menghadap ke Istana Negara.

Pria tersebut datang sembari membawa sebuah hadiah istimewa. Ia mengklaim, yang ia bawa adalah keris peninggalan jaman Majapahit. Keris dengan lima lekukan alias luk itu menurutnya bertuah dan bisa mengabulkan permintaan empunya.

Scroll untuk membaca

Scroll untuk membaca

Bung Karno bertanya kemudian, apa imbalan yang diminta tamu bersangkutan untuk keris itu? Jawabannya adalah satu kendaraan mobil. Bagaimana tanggapan Bung Karno?

Presiden Sukarno mengenalkan keris pada pemimpin revolusi Kuba, Fidel Kastro. (istimewa)
Presiden Sukarno mengenalkan keris pada pemimpin revolusi Kuba, Fidel Kastro. (istimewa)

"Coba cabutlah keris itu dan mohon hujan turun sekeras-kerasnya agar rumput di tamanku ini menjadi segar dan hijau kembali," ujar Bung Karno dikutip Bambang Widjanarko. Bambang menuturkan, pembawa hadiah keris langsung terdiam.

"Kalau tak bisa sekarang, bawalah keris itu terlebih dahulu dan tetaplah mohon agar hujan turun. Kalau nanti malam atau besok pagi hujan benar-benar turun, akan saya penuhi janji saya memberi dua mobil untuk Bapak," Bung Karno melanjutkan. Tentu permintaan itu tak bisa dikabulkan pembawa keris. Ia kemudian pulang tanpa hasil meski keris tersebut tetap dihadiahkan pada sang Presiden.

Tongkat terkenal yang kerap dibawa-bawa Bung Karno juga beberapa kali menjadi pertanyaan kepala negara negeri lain. Atas pertanyaan itu, Bung Karno selalu menekankan soal kewajaran tongkatnya yang merupakan hadiah dari Presien Filipina Elpido Quirino. "Ini hanya kayu biasa, saya bawa hanya untuk menunjukkan posisi kepala negara, " kata Bung Karno sekali waktu. Ia bahkan sempat mempersilahkan Menteri Transmigrasi dan Koperasi, Achadi, membawa tongkat itu jika tak percaya bahwa itu tongkat biasa.

Bung Karno juga diketahui beberapa kali membawa keris peninggalan Perang Puputan di Bali. Sebagian pihak mengklaim ada tuah pada keris tersebut. Sementara Bung Karno menjawab bahwa keris itu semata pengingat atas perlawanan rakyat Bali melawan penjajah.

BUng KArno dan tongkatnya. (AFP)
BUng KArno dan tongkatnya. (AFP)

Dari mana sikap Bung Karno yang secara pribadi menolak klenik itu? "Aku tak pernah mendapatkan didikan agama yang teratur karena bapak tidak mendalaminya. Aku menemukan sendiri Islam pada usia 15 tahun, ketika aku mengikuti keluarga Pak Tjokro (HOS Tjokroaminoto). Masuk satu organisasi agama dan sosial bernama Muhammadiyah. Gedung pertemuannya terletak di seberang rumah kami di Gang Paneleh. Sekali sebulan, dari pukul delapan sampai tengah malam, seratus orang berdesak-desakan mendengarkan pelajaran agama dan ini disusul dengan tanya jawab. Aku mendengarkan dengan penuh perhatian," ujarnya dalam "Penyambung Lidah Rakyat", otobiografi yang ditulisnya bersama Cindy Adam.

Islam yang diajarkan Pak Tjokro kita pahami, merupakan agama yang rasional dan menekankan pada keadilan sosial. Sementara Muhammadiyah sejak lama adalah penentang TBC alias Takhayul, Bid'ah, dan Khurafat.

Selanjutnya, Bung Karno juga belajar Islam secara intens sepanjang 1930-an saat dipenjara di Sukamiskin, Bandung, dan kemudian di Ende, Kepulauan Flores. Di Ende, ia dibimbing dari jauh oleh pendiri ormas Persis, A Hassan. Dari surat-suratnya, kita memahami bahwa Bung Karno cenderung pada Islam yang lebih puritan kala itu. Ia bahkan sempat meminta menerjemahkan biografi Abdulaziz bin Saud, raja Arab Saudi yang juga merupakan patron pemurnian ala Muhammad bin Abdul Wahab.

Foto Presiden Sukarno saat melaksanakan shalat sunnah saat mengunjungi Amerika Serikat pada 1956. (istimewa)
Foto Presiden Sukarno saat melaksanakan shalat sunnah saat mengunjungi Amerika Serikat pada 1956. (istimewa)

“Alhamdullilah! Saya belum ada Bukhari dan Muslim yang bisa dibaca. Betulkah belum ada Bukhari Inggris? Saya pentingkan sekali mempelajari hadis, oleh karena saya tuliskan sedikit di dalam salah satu surat saya yang terdahulu, dunia Islam menjadi mundur oleh karena banyak orang “jalankan” hadis yang dhaif dan yang palsu. Karena hadis-hadis yang demikian itulah, maka agama Islam menjadi diliputi oleh kabut-kabut kekolotan, ketahayulan, bid’ah, antirasionalisme, dll. Padahal tak ada agama yang lebih rasional dan simplistic daripada Islam,” tulis Sukarno dalam salah satu surat pada 1936, menggambarkan tantangannya terhadap irasionalitas masyarakat Muslim Indonesia kala itu.

"Tjobalah pembatja renungkan sebentar ‘padang-pasir’ dan ‘wahabisme’ itu. Kita mengetahui djasa Wahabisme jang terbesar: ia punja kemurnian, ia punja keaslian, murni dan asli sebagai udara padang-pasir, kembali kepada asal, kembali kepada Allah dan Nabi, kembali kepada Islam dizamanja Muhammad! Kembali kepada kemurnian, tatkala Islam belum dihinggapi kekotorannya seribu satu tahajul dan seribu satu bid’ah. Lemparkanlah djauh-djauh tahajul dan bid’ah itu, tjahkanlah segala barang sesuatu jang membawa kemusjrikan!” tulisnya lagi seperti dimuat pada Di Bawah Bendera Revolusi.

Seiring berjalannya waktu dan akhirnya Bung Karno memimpin Indonesia, ia tetap tak bisa mencegah maraknya warga di Jawa yang menyematkan mistisisme pada dirinya. Kepada Cindy Adam, ia menegaskan tetap tak percaya segala mistisisme itu, namun juga membiarkan seturut kuatnya praktik tersebut di Jawa.

Sementara secara pribadi, salah satu istri Sukarno, Fatmawati, menuturkan bahwa keluarga mereka tak pernah melakukan ritual-ritual tradisional terkait kelahiran anak atau sebagainya. Dalam bahasa Fatmawati, mereka hanya melakukan yang sesuai ‘Alquran, sunah, dan yang diajarkan para guru”.

Sangat disayangkan jika ada pihak-pihak "pengikut" Bung Karno pada masa kini, utamanya dari kalangan umat Islam, malah terjerumus dalam klenik. Karena seperti yang ia tekankan dalam pidatonya pada peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Istana Negara pada 1963, "Islam bukan agama klenik!... Islam adalah agama yang menuju pada hati dan otak".

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

Tentang sejarah Tanah Air, dunia, dan peradaban Islam.

Kekerasan Bersenjata di AS dalam Angka

Era Keemasan Baru Ilmuwan Muslimah

Pendidik Muslimah di Masa Kolonial

Para Ilmuwan Muslimah Abad Keemasan

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

Kategori

× Image