Jejak Rayuan Ukraina pada Indonesia

Umum  

Pada 29 Januari 2022 lalu, kondisi di Eropa Timur sudah mulai memasuki puncak eskalasi. Ratusan ribu pasukan Rusia sudah mulai ditempatkan di front timur negara itu, tak jauh dari perbatasan dengan Ukraina. Belum ada kepastian soal serangan Rusia kala itu, namun potensinya kian hari makin menguat.

Nah, tepat pada tanggal itu, ribuan kilometer ke selatan Kedubes Ukraina di Jakarta punya acara sendiri. Mereka meluncurkan prangko khusus dengan gambar Jenderal Besar Sudirman saat itu. Menurut Dubes Ukraina untuk Indonesia, Vasyl Hamianin, mereka ingin menyoroti kepahlawanan Sudirman melawan pasukan asing yang menyerbu Tanah Air.

Prangko Jenderal Sudirman yang dir
Prangko Jenderal Sudirman yang dir

"Jiwa kepahlawanan Jenderal Sudirman sangat menginspirasi dan ada kemiripan dengan semangat dan jiwa salah satu pahlawan Ukraina," ujarnya dilansir Antara kala itu. Sebaliknya, Hamianin juga ingin warga Indonesia menghargai kepahlawanan pahlawan bangsa Ukraina melawan penjajah.

Scroll untuk membaca

Scroll untuk membaca

Persoalannya, penerbitan prangko tersebut ternyata sepihak. Eko Wahyuanto, analis kebijakan ahli madya di Kementerian Komunikasi dan Informatika menyatakan, penerbitan itu menyalahi Permen Kominfo Nomor 21 Tahun 2012 Bab I Pasal 1. Dalam beleid itu, penerbitan prangko bersama adalah penerbitan antara Indonesia dan satu atau lebih negara lain pada tanggal yang sama di masing-masing negara dengan tema sama.

Merujuk Eko Wahyuanto, sampai perangko itu diluncurkan, tak ada pengajuan formal dari Kedubes Ukraina ke Kemenkominfo. Padahal, gambar foto yang dipakai untuk prangko tersebut diambil dari galeri kantor berita Antara.

Pihak Kedubes Ukraina, tutur Eko Wahyuanto, hanya mengajukan surat permohonan resmi nomor 6153/14-800-86494 tertanggal 3 November 2021 yang meminta penandatanganan dan penerbitan prangko bersama kepada Indonesia.

Kemenkominfo tak mengabulkan hal itu setelah melakukan klarifikasi dan verifikasi dengan Kementerian Luar Negeri. Pasalnya, dalam kondisi pada akhir 2021 dan awal 2022 itu aspek geopolitik yang bisa memunculkan berbagai tafsir.

Sebelumnya, pada Oktober 2021, sedianya prangko bergambar Jenderal Sudirman sudah diterbitkan sebagai cinderamata saat pelepasan Duta Besar RI di Kiev Yuddy Chrisnandi. Yuddy juga dibuatkan prangko cinderamata kala itu.

Balada prangko Sudirman itu tercatat sebagai langkah pertama Ukraina mendekati Indonesia pada masa-masa konflik dengan Rusia belakangan. Upaya kedua, pada 1 Maret lalu, Vasyl Hamianin melansir surat terbuka kepada warga Indonesia. Ia meminta dukungan untuk warga Ukraina sembari mengutip seruan terkenal masa revolusi kemerdekaan RI: Merdeka atau Mati!.

Sementara pada 6 Maret, Hamianin kembali melayangkan surat terbuka kepada Presiden Joko Widodo. "Saya sangat berharap agar dipahami bahwa sanksi internasional yang dikenakan kepada Rusia sebagai penjajah akan turut mempengaruhi perekonomian Indonesia? Apakah Yang Mulia siap untuk tetap diam sementara orang Indonesia menderita pula? Hanya karena agresi Rusia terhadap Ukraina? Saya sangat berharap sudah cukup jelas bahwa setiap proyek kerja sama Indonesia dengan Federasi Rusia saat ini sedang diragukan kelanjutannya? Dan mungkin tidak dapat terselesaikan dalam beberapa dekade ke depan? Karena agresi Rusia terhadap Ukraina?," tulisnya dalam surat tersebut.

Meski Indonesia ikut meneken resolusi PBB mengecam serangan Rusia ke Ukraina, Presiden Jokowi masih bergeming. Dalam cicitan terkininya, ia belum juga secara langsung melayangkan kecaman khusus bagi Rusia.

Presiden Joko Widodo berjabat tangan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin pada KTT ASEAN-Rusia di Singapura 2018 lalu. Reuters/Sputnik/Alexei Druzhinin/Kremlin
Presiden Joko Widodo berjabat tangan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin pada KTT ASEAN-Rusia di Singapura 2018 lalu. Reuters/Sputnik/Alexei Druzhinin/Kremlin

“Gagalnya kesepakatan gencatan senjata di Ukraina bukan hanya mendorong eskalasi konflik bersenjata tetapi semakin bertambahnya korban jiwa dan krisis kemanusian di Ukraina. Perang adalah persoalan ego, melupakan sisi kemanusiaan, dan hanya menonjolkan kepentingan dan kekuasaan,” tulis beliau melalui akun Twitter/ resmi, pada 8 Maret 2022.

Sebaliknya, Rusia juga tak memasukkan Indonesia dalam daftar “negara tak bersahabat” yang mereka lansir pada 7 Maret 2022. Dalam lansiran itu, Indonesia tak dianggap sebagai bagian negara-negara yang memberikan sanksi pada Rusia.

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

Tentang sejarah Tanah Air, dunia, dan peradaban Islam.

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

Kategori

× Image