Dari Nixon sampai Anang, Sejarah Panjang Koin Kripto

Agama  

Menjelaskan dan memahami apa itu cryptocurrency alias mata uang kripto bukan perkara mudah. Bagaimanapun demamnya sudah telanjur menggejala. Dari selebritas Anang "Saya Sih Yes" Hermansyah sampai Wirda Mansyur, putri Ustaz Yusuf Mansyur, sudah menerjunkan diri dengan meluncurkan token kripto masing-masing.

Bagaimanapun penjelasannya, fenomena tersebut tak akan terjadi tanpa sebuah peristiwa yang terjadi setengah abad lebih setahun lalu. Kala itu, pada 15 Agustus 1971, di tengah hangatnya musim panas Amerika Serikat, Presiden Richard Nixon masuk televisi.

Ia mengumumkan, sejak saat itu mata uang dolar AS tak akan lagi dibekingi oleh emas. Krisis ekonomi kala itu dan terus berkurangnya cadangan emas jadi kekhawatrian utama yang memicu kebijakan tersebut.

Scroll untuk membaca

Scroll untuk membaca

Presiden AS Richard Nixon saat mengumumkan ditinggalkannya standar emas pada 1971 silam. (AP Photo)
Presiden AS Richard Nixon saat mengumumkan ditinggalkannya standar emas pada 1971 silam. (AP Photo)

Pengumuman sederhana itu, merujuk kolumnis ekonomi the Guardian, Larry Elliott, seperti tsunami yang menyapu perekonomian dunia. Apa hal?

Begini, sejak zaman Yunani Kuno, manusia mulai menggunakan logam mulia sebagai alat tukar. Bentuknya adalah koin-koin emas dan perak. Dari Eropa, seturut ekspansi Romawi, hal tersebut menjalar kemana-mana. Di Cina, selain koin digunakan juga emas yang dibentuk segenggaman tangan orang dewasa.

Saat tiba di jazirah Arab, koin perak yang dinamai "drachma" di Yunani dan "drahm" di Persia itu kemudian berevolusi menjadi "dirham". Sementara koin emas yang dinamai "denarius" kemudian jadi "dinar".

Dirham pada masa Sultan Umar Bin Abdul Aziz. (wikimedia commons)
Dirham pada masa Sultan Umar Bin Abdul Aziz. (wikimedia commons)

Sepanjang peradaban Islam yang menggantikan Romawi dan Persia sebagai adidaya sejak Rasulullah wafat, model pembayaran itu bertahan. Sistem nilai dinar dan dirham terkait dengan ukuran beratnya dalam satuan mitskal. Artinya, secara teori dinar dan dirham bebas dari naik turun nilainya.

Nah, masih ingat pembayaran di Cina yang bentuknya sekepalan itu? Karena sedemikian berat dibawa ke mana-mana, muncullah ide membuat nota yang bisa ditukarkan ke lokasi penyimpanan emas. Ide tersebut berkempang pada abad ke-17 dan disempurkan pada abad ke-11 dalam bentuk uang kertas pertama bernama "jiaozi".

Pada abad pertengahan, ide itu menjalar ke Eropa. Masing-masing negara kemudian mengeluarkan nota sebagai bukti kepemilikan emas di bank. Pada titik tertentu pada awal abad ke-20, Amerika Serikat jadi negara dengan cadangan emas paling banyak di dunia.

Blok cetak dan nota pada masa Dinasti Yuan. (wikimedia commons)
Blok cetak dan nota pada masa Dinasti Yuan. (wikimedia commons)

Negara-negara lain yang tak punya sebegitu banyak, kemudian meninggalkan standar emas dan beralih ke standar dolar AS. Dolar AS kemudian jadi mata uang internasional karena masih dijamin bisa ditukar dengan emas.

Artinya, saat Nixon mengumumkan bahwa dolar AS tak lagi bersandar pada emas, mata uang sebagian besar negara-negara dunia sama sekali tak punya pegangan riil. Nilai uang yang beredar di dunia kemudian bersandarkan pada sistem fiat, yakni nilai yang ditentukan pemerintah melalui bank sentral tanpa bekingan komoditas apapun.

Hal ini enak di bank tapi kebanyakan tak enak buat masyarakat. Harga-harga barang bisa naik turun seketika, utang bisa diberikan dengan bunga yang membengkak, nilai mata uang bisa terdefaluasi secara ekstrem macam kasus di Zimbabwe.

Mata uang 100 triliun dolar Zimbabwe. (istimewa)
Mata uang 100 triliun dolar Zimbabwe. (istimewa)

Sebagian orang kemudian berpikir, "Jika tak ada komoditas pendukung, mengapa pula hanya sebagian bankir itu yang bisa menentukan nilai alat tukar?" Dari situ, ide desentralisasi mata uang mulai beredar.

Ia sempat dicoba pada 1983 oleh David Chaum dengan menerbitkan uang digital "ecash", namun tak berhasil. Bukan rahasia, zaman itu dunia belum terkoneksi macam sekarang.

Hingga kemudian pada 2008, sekelompok orang dengan nama samaran kolektif Satoshi Nakamoto meluncurkan bitcoin. Mata uang kripto itu bekerja dengan sistem blockchain yang merupakan rekam data transaksi yang terus berkembang biak dalam senarai blok-blok untuk kemudian menaikkan valuasinya. Bukan perkara tak rumit, bukan?

Valuasi ini bisa ditambang dengan sistem "mining" yang membutuhkan komputer berkekuatan tinggi. Saking tingginya kebutuhan kekuatan untuk mining ini, bukan lagi CPU yang digunakan, tapi GPU alias Graphic Processing Unit yang biasa dipakai menjalankan gim komputer paling canggih.

Tumpukan GPU untuk menambang bitcoin. (wikimdia commons)
Tumpukan GPU untuk menambang bitcoin. (wikimdia commons)

Cara lainnya valuasi mata uang kripto ini bisa melonjak adalah dengan spekulasi alias pembelian dalam jumlah besar. Ini membuat nilai mata uang kripto sangat volatil. Misalnya, jika ada miliuner cum spekulan macam Elon Musk atau George Soros membeli dalam jumlah masif, nilai bakal melonjak; sementara saat mereka melepas, nilainya anjlok.

Saat ini, rerupa mata uang kripto ini belum benar-benar menjadi mata uang. Ia masih lebih kepada aset yang dalam kondisi tertentu dapat dipertukarkan. Baru satu negara, El Savador, yang mengesahkan penggunaan koin kripto untuk pembayaran secara menyeluruh.

Namun jika kelak demikian adanya dan uang kertas punah, ingat-ingatlah pidato Nixon 51 tahun silam.

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

Tentang sejarah Tanah Air, dunia, dan peradaban Islam.

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

Kategori

× Image