Kisah Putra Probolinggo Pelopor Naturalisasi Timnas Swiss

Sejarah  

Selepas mencetak gol ke gawang Kamerun dalam pertandingan di Stadion Al Janoub, Qatar, semalam, pemain Timnas Swiss Breel Embolo memilih tak merayakan. Hal yang sangat langka bagi pesepak bola mengingat ini acaranya Piala Dunia, puncak karir mereka.

Nirselebrasi itu mengisyaratkan salah satu ironi sepak bola modern. Embolo adalah seorang putra kelahiran Yaounde, ibu kota dari negara yang ia kalahkan petang itu. Seperti lebih dari setengah isi Timnas Swiss, keluarga Embolo merupakan imigran. Para putra imigran dari Balkan, Afrika, dan Amerika Selatan, tersebut belakangan jadi tulang punggung Timnas Swiss.

Nirselebrasi Breel Embolo saat mencetak gol ke gawang Timnas Kamerun. (Istimewa)
Nirselebrasi Breel Embolo saat mencetak gol ke gawang Timnas Kamerun. (Istimewa)

Menariknya, soal naturalisasi di Timnas Swiss ini ternyata bukan fenomena baru. Sejarah panjang itu bermula dari sebuah kota di utara Jawa Timur bernama Probolinggo.

Scroll untuk membaca

Scroll untuk membaca

Alkisah, pada 11 Juni 1908, lahir seorang keturunan Belanda bernama Law Adam di kota tersebut. Merujuk sportgeschiedenis.nl, ia kemudian pindah ke Den Haag di Belanda pada usia belia. Punya kemampuan mengolah kulit bundar yang mumpuni, ia lalu bergabung dengan HVV Den Haag.

Ketika berusia 19, Adam berangkat lagi ke Zurich di Swiss untuk melanjutkan studi. Di Swiss ia juga bergabung dengan klub Grasshoppers. Di klub itu, Adam kemudian mewujud jadi sebagai salah satu sayap kanan terbaik di Eropa.

Law Adam (kiri). (Public domain)
Law Adam (kiri). (Public domain)

Max Colthoff dalam bukunya Als de Kraaien Overvliegen mencatat bagaimana Adam punya gerakan baru yang mematikan. "Seingat saya, ia biasa menggiring bola menuju lawan, kemudian memutar kaki kirinya mengelilingi bola dengan arah lawan jarum jam disertai gerakan bahu, kemudian saat lawan terkecoh bergerak ke kiri, kaki kanannya akan membawa bola ke arah kanan. Sebagai sayap kanan, Adam menipu ke kiri dan bergerak melewati musuh dari kanan," tulisnya. Gerakan itu saat ini dikenal dengan nama "stepover", yang demikian lazim jadi senjata tipu-tipu pesepak bola seantero dunia. Adam diyakini sebagai yang pertama mempraktikkan tipuan tersebut.

Nah, demikian jagonya si Adam ini, menurut koran Belanda Het Vaderland, tim seleksi Timnas Swiss pada 1929 mengeluarkan kebijakan kontroversial. Mereka menggunakan opsi hukum untuk merekrut Adam sebagai pemain timnas menjelang Piala Eropa yang diikuti Hungaria, Italia, Cekoslowakia, dan Swiss. Rekrutmen pemain berkewarganegaraan asing ini baru pertama kalinya terjadi di Swiss. Langkah yang kemudian diikuti dengan rekrutmen para "Oriundi" alias pemain asing oleh Timnas Italia Pada 1930-an.

Bagaimanapun, setahun setelah itu Belanda tak terima. Mereka kemudian mengeklaim Adam untuk bermain bagi Tim Oranye. Ini juga menimbulkan kontoversi di Belanda karena status Adam yang pernah bermain untuk Swiss. Saat kemudian Belanda kalah dari Swiss dengan skor 6-3 kala itu, Adam ikut disalahkan sebagai salah satu "pemain asing".

Sayangnya, belum lama membela Tim Oranye, pada 1933 Adam mengidap sakit jantung. Ia baru 10 kali membela Timnas Belanda kala itu. Ia kemudian dipaksa pensiun karena dianggap tak fit.

Saking cintanya dengan sepak bola, Adam enggan berhenti bermain. Ia kemudian pulang ke Tanah Air dan terus bermain bola. Pada 1940, lima tahun sebelum kemerdekaan Indonesia, ia mengikuti pertandingan membela klub Thor melawan Anasher di Surabaya, Jawa Timur.

Wasit pertandingan itu, WA Lambeck, menulis pada majalah De Scheidsrechter bahwa Adam harus meninggalkan lapangan pada menit ke-53. "Jantung saya berulah lagi," ujar Lambeck mengenang alasan Adam yang kala itu memegangi dadanya. Saat Lambeck kemudian menengok ke ruang ganti, ia melihat tubuh Adam sudah membiru di meja pijat. Nyawanya tak terselamatkan lagi.

Dan demikianlah kisah salah satu pemain naturalisasi paling awal di dunia sepak bola. Lahir di Probolinggo, meninggal di Surabaya. Ia baru berusia 32 tahun kala itu.

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

Tentang sejarah Tanah Air, dunia, dan peradaban Islam.

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

Kategori

× Image