Jalan Panjang Anwar Ibrahim Arungi Sengkarut Politik Malaysia

Umum  

Hampir setengah abad Anwar Ibrahim mewarnai perpolitikan Malaysia. Berulang kali ia digadang-gadang jadi perdana menteri, berulang kali juga dipenjara. Berikut daftar panjang perjalanan tersebut.

1970-an

Anwar Ibrahim tampil sebagai tokoh muda Muslim yang kerap memimpin unjuk rasa antipemerintahan terkait kemiskinan di bagian utara Malaysia pada 1970-an. Ia kemudian mendirikan organisation Angkatan Belia Islam Malaysia (ABIM) yang berpengaruh. Ketokohannya pada aksi-aksi ini melambungkan namanya ke kancah perpolitikan nasional.

Scroll untuk membaca

Scroll untuk membaca

1982

Anwar Ibrahim diundang Perdana Menteri Mahathir Mohamad bergabung dengan Partai UMNO yang bercirikan perjuangan afirmasi pribumi Melayu. Mahathir baru setahun menjabat sebagai perdana menteri ketika merekrut Anwar Ibrahim.

Anwar Ibrahim selepas dilantik sebagai perdana menteri Malaysia. (FAZRY ISMAIL/EPA POOL)
Anwar Ibrahim selepas dilantik sebagai perdana menteri Malaysia. (FAZRY ISMAIL/EPA POOL)

1983

Baru setahun bergabung, karir politik Anwar Ibrahim melesat saat ditunjuk menjadi menteri pemuda pada 1983. Ia kemudian juga pernah menjabat sebagai menteri pertanian dan menteri pendidikan. Pada 1991, Anwar Ibrahim mulai menjabat sebagai menteri keuangan. Ia melancarkan sejumlah kebijakan yang membawa kemajuan ekonomi bagi Malaysia. Kian mentereng, Anwar kemudian menjabat sebagai wakil perdana menteri pada 1993. Ia digadang-gadang bakal menggantikan Mahathir.

1998

Di tengah krisis ekonomi yang melanda Asia, Anwar sempat menjadi pejabat harian perdana menteri saat Mahathir mengambil cuti dua bulan. Dalam waktu singkat itu, Anwar menyoroti maraknya nepotisme dan kronisme di partai dan pemerintahan Malaysia.

Saat karirnya tengah melesat. Mahathir tiba-tiba memecat Anwar dengan alasan tak layak menjabat. Anwar kemudian memimpin aksi 30 ribu orang menuntut reformasi di Malaysia. Semangat di Malaysia itu tak lepas dari hubungan baik Anwar dengan tokoh-tokoh proreformasi di Indonesia yang berhasil menumbangkan rezim Orde Baru.

1999

Anwar kemudian dipenjarakan dengan dakwaan sodomi hingga 2004 dan dilarang berpolitik hingga Pemilihan Raya 2008. Anwar Ibrahim berkeras bahwa tudingan tersebut hanyalah fitnah politik untuk menjauhkannya dari perpolitikan Malaysia.

Meski menang kursi di parlemen melalui partai Islam bentukannya, yakni Partai Keadilan Rakyat (PKR), ia kembali dipenjarakan pada 2008, lagi-lagi dengan tudingan sodomi. Pada 2012, ia kemudian dinyatakan tak bersalah dan kemudian membentuk koalisi Pakatan Rakyat pada Pemilihan Raya 2013. Koalisi itu kalah dengan suara tipis, memicu tudingan kecurangan dalam pemilu. Pada 2014, dakwaan sodomi kembali dilayangkan kepada Anwar Ibrahim yang kemudian kembali dipenjara sejak 2015.

2018

Saat dipenjara, Anwar berdamai dengan Mahathir dan membentuk oposisi Pakatan Harapan yang akhirnya berhasil mematahkan dominasi koalisi Barisan Nasional. Anwar kemudian diberi ampunan kerajaan. Meski begitu, Mahathir tak kunjung memenuhi janjinya memberikan kursi PM pada Anwar. Hal ini memicu perpecahan Pakatan Harapan

2022

Setelah gejolak politik yang diwarnai pergantian tiga perdana menteri, Malaysia kembali menggelar Pemilihan Raya pada 2022. Tiga koalisi bertarung dalam pemilu kali ini. Diantaranya Pakatan Harapan, Perikatan Nasional, dan Barisan Nasional.

Meski sama-sama memiliki partai Islam dan partai berbasis etnis-etnis utama di Malaysia, Pakatan Harapan dinilai lebih menekankan multikulturalisme. Sementara Barisan Nasional dan Perikatan Nasional berisikan komponen UMNO dan pecahannya yang masih menggaungkan prinsip Ketuanan Melayu.

South China Morning Post (SCMP) melansir, merujuk sigi yang dilakukan Huayan Policy Institute dan Centre for Malaysian Chinese Studies, mayoritas etnis Tionghoa akan melayangkan pilihan ke Pakatan Harapan dengan harapan terbentuknya pemerintahan yang lebih beragam. Semangat pembaruan Pakatan Harapan juga menarik bagi pemilih muda. Pemilih muda pada pemilu kali ini punya suara signifikan karena usia minimal pemilih diturunkan dari 21 tahun menjadi 18 tahun.

Kendati demikian, dukungan itu ternyata tak mampu memberikan Pakatan Harapan mayoritas kursi di parlemen untuk membentuk pemerintahan. Perikatan Nasional secara mengejutkan berhasil menarik jumlah pemilih yang signifikan melalui Partai Persatuan Peribumi Bersatu Malaysia dan Partai Islam se-Malaysia.

Kedua koalisi yang bersaing ketat itu kemudian menyerahkan nama masing-masing kandidat perdana menteri Raja Malaysia Sultan Abdullah Sultan Ahmad Shah. Raja kemudian menunjuk Anwar Ibrahim yang diajukan Pakatan Harapan setelah koalisi itu mendapat dukungan di parlemen dari rival terdahulu mereka, yakni UMNO yang tergabung dalam koalisi Barisan Nasional.

Sumber: Pusat Data Republika

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

Tentang sejarah Tanah Air, dunia, dan peradaban Islam.

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

Kategori

× Image