Para Tonggak Bangsa dari Muhammadiyah

Sejarah  

Pembaca yang budiman, dalam beberapa hari ini PP Muhammadiyah akan menggelar kongres lima tahunan yang awam disebut muktamar. Bukan rahasia, organisasi IsIam tersebut berperan besar dalam perjalanan bangsa. Sejauh ini lebih dari 20 tokoh dan anggota organisasi yang didirikan KH Ahmad Dahlan tersebut diangkat sebagai pahlawan nasional. Berikut sebagian saja diantaranya.

Agus Salim

The Grand Old Man, Agus Salim, seorang ulama dengan ilmu yang mumpuni, jadi tonggak penting kemerdekaan melalui caranya memengaruhi dan mendidik generasi pejuang kemerdekaan. Pada 1920-an, rumahnya di Jakarta kerap dijadikan ajang mendidik pemuda-pemuda yang kelak menjadi tokoh bangsa seperti Mohammad Hatta dan Sukarno. Setelah proklamasi, ia jadi ujung tombak diplomasi Indonesia untuk menegakkan kemerdekaan.

Scroll untuk membaca

Scroll untuk membaca

Pria kelahiran Bukit Tinggi itu mulai berkenalan dengan gerakan pembaruan Islam melalui pamannya Ahmad Khatib. Saat KH Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah dengan corak pembaruan tersebut pada 1912, Agus Salim bergabung tak lama kemudian.

Presiden Sukarno dan Agus Salim dalam tahanan Belanda pada 1949. Keduanya merupakan kader Muhammadiyah. (troppenmuseum/wikimedia commons)
Presiden Sukarno dan Agus Salim dalam tahanan Belanda pada 1949. Keduanya merupakan kader Muhammadiyah. (troppenmuseum/wikimedia commons)

Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir menuturkan, Agus Salim sempat mengusulkan politisasi Muhammadiyah pada 1918. Hal tersebu memicu keberatan dari KH Ahmad Dahlan. Sejak itu, Agus salim memilih berfokus pada Sarikat Islam dan Kiai Ahmad Dahlan teguh di Muhammadiyah.

Dr Soetomo

Meski tak sudah diperdebatkan, secara resmi negara mengakui pendirian organisasi Budi Utomo pada 1908 sebagai tonggak kebangkitan nasional. Salah satu tokoh utamanya tentu dr Soetomo sebagai pendiri.

Yang jarang diketahui barangkali adalah kedekatan dr Soetomo dengan Muhammadiyah. Pada 1917, misalnya, Kongres Budi Utomo dilaksanakan di kediaman KH Ahmad Dahlan. Sempat dianggap tokoh nasionalis "anti-Islam", dr Soetomo kemudian mengakrabi tokoh-tokoh Msulim, utamanya pentolan Muhammadiyah KH Mas Mansur.

Ia juga terlibat dalam upaya-upaya kemanusiaan Muhammadiyah. Pada 1924, dr Soetomo ikut mendirikan dan mengelola Poliklinik Muhammadiyah di Surabaya. Dari ikhtiar awal tersebut, hingga 2021 Muhammadiyah dan Aisyiyah tercatat memiliki setidaknya 117 rumah sakit dan 600 klinik yang tersebar di seantero Nusantara.

Ir Sukarno

Tak hanya sebagai proklamator Republik Indonesia, Sukarno juga harum namanya sebagai pejuang antikolonialisme dan antiimperialisme dunia. Ia berkenalan dengan Muhammadiyah tak lama setelah organisasi itu didirikan di Yogyakarta pada 1912.

"Saya berusia 15 tahun tatkala kali pertama berjumpa dan terpukau kepada KH Ahmad Dahlan,” tutur Sukarno mengenang perjumpaannya dengan pendiri Muhammadiyah itu pada 1916. Saking terkesannya, ia mengikuti terus dakwah Kiai Ahmad Dahlan di Surabaya kala itu.

Sukarno kemudian menjadi anggota resmi Muhammadiyah pada 1938. Ia kala itu menjadi ketua Dewan Pengajaran Muhammadiyah saat diasingkan Belanda ke Bengkulu. Sukarno mengklaim tetap Muhammadiyah sampai akhir hayatnya. Sikap antikleniknya dan kekaguman pada gerakan pemurnian Islam bisa dikatakan berakar dari ajaran-ajaran Muhammadiyah.

Jenderal Besar Sudirman

Pada tahun Bung Karno bertemu Kiai Ahmad Dahlan di Surabaya, yakni 1916, lahir seorang anak bernama Sudirman di Purbalingga, Jawa Tengah. Sejak kecil, ia sudah menerima pendidikan ala Muhammadiyah. Ia juga bergabung dengan gerakan kepanduan Muhammadiyah di Banyumas dan aktif hingga menjadi pembina. Sempat juga ia mengajar di sekolah HIS Muhammadiyah di Surakarta.

Jenderal Besar Sudirman di Yogyakarta. (istimewa)
Jenderal Besar Sudirman di Yogyakarta. (istimewa)

Tempaan itu kemudian berperan besar bagi kepribadiannya saat turun berjuang memertahankan kemerdekaan. Pada 1945, ia diangkat sebagai jenderal besar guna memimpin perlawanan terhadap Agresi Militer Belanda. Kepemimpinannya kala itu berhasil mengusir pasukan sekutu dari Ambarawa dan Semarang. Ia juga memimpin Serangan Umum 1 Maret pada 1949 yang mengokohkan militer Indonesia di kancah dunia. Didera sakit, Jenderal Sudirman tak berhenti memimpin perang gerilya dan akhirnya berpulang pada 1950.

KH Mas Mansur

Pada 1921, seorang ulama terpandang, KH Mas Mansur bergabung dengan Muhammadiyah. Ia juga terkesan dengan dakwah KH Ahmad Dahlan. Saat berdakwah di Surabaya, KH Ahmad Dahlan kerap menginap di rumah keluarga KH Mas Mansur. Melalui Kongres Muhammadiyah ke-26 di Yogyakarta pada 1937, KH Mas Mansur menerima amanah sebagai ketua umum untuk periode 1937-1943.

Mas Mansur terkenal juga sebagai satu dari Empat Serangkai, bersama Sukarno, Mohammad Hatta, dan Ki Hajar Dewantara. Mereka memimpin organisasi bentukan Jepang untuk menuju kemerdekaan Indonesia pada 1943.

Mas Mansur kemudian tercatat sebagai salah seorang anggota Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). Pada 1944, ia kembali ke Surabaya dan bersama pemuda terlibat dalam perjuangan merebut kemerdekaan.

KH Mas Mansur (kedua dari kiri, bawah) di depan Poliklinik Muhammadiyah Surabaya. (repro PW Muhammadiyah Jatim)
KH Mas Mansur (kedua dari kiri, bawah) di depan Poliklinik Muhammadiyah Surabaya. (repro PW Muhammadiyah Jatim)

Dua tahun kemudian, dia ditangkap sekutu dan dipaksa berpidato untuk menghentikan perlawanan rakyat. Akan tetapi ia menolak, sehingga dimasukkan ke penjara. Ia wafat pada 25 April 1946 dalam penjara.

Buya Hamka

Geliat Muhammadiyah di Sumatera, tak lepas dari kecocokan yang dirasakan salah satu tokoh pemurnian Islam Syekh Abdul Karim Amrullah dengan KH Ahmad Dahlan. Selepas perjumpaannya dengan Kiai Ahmad Dahlan 1917 di Surabaya, Syekh Abdul Karim bertekad menjalankan pendidikan ala Muhammadiyah di kampung halaman di Minangkabau.

Anaknya Abdul Malik Karim Amrullah alias Buya Hamka, serta menantunya Sutan mansur kemudian menyebarkan Muhammadiyah dengan mendirikan pengurus cabang di berbagai wilayah di Sumatera. Buya Hamka terkenal sebagai ulama sekaligus sastrawan berpengaruh. Namun pada masa perjuangan kemerdekaan, seperti dituliskan dalam Kenang-kenangan Hidup (Jilid 4), ia ikut bergerilya melawan Belanda dan sekutu di hutan sekitar Medan.

Pada 1947 Buya Hamka diangkat sebagai Ketua Barisan Pertahanan Nasional. Buya Hamka juga diangkat Wakil Presiden Hatta sebagai Sekretaris Front Pertahanan Nasional. Ia juga mendirikan membentuk Badan Pembela Negara dan Kota (BPNK) yang merupakan barisan perlawanan gerilya terbesar di Sumatera Barat dan sekitarnya.

Selain tokoh-tokoh di atas, sejumlah pahlawan nasional yang juga terafiliasi dengan Muhammadiyah adalah KH Ahmad Dahlan, Djuanda Kartawijaya, Fakhrudin, Otto Iskandardinata, Adam Malik, Fatmawati, Nani Wartabone, Gatot Mangkupraja, Andi Sulthan Daeng Radja, Teuku H Moehammad Hasan, Ki Bagus Hadikusumo, Lafran Pane, Abdurahman Baswedan, Kasman Singodimejo, dan Abdul Kahar Mudzakkir.

Dari berbagai sumber

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

Tentang sejarah Tanah Air, dunia, dan peradaban Islam.

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

Kategori

× Image