Muhammad SAW Sang Pedagang Ulung

Sejarah  

Assalamualaikum, pembaca yang budiman. Bulan Maulid kembali tiba, terkait hal itu, kami punya ikhtiar meyampaikan secara berseri riwayat mulia Baginda Rasulullah (semoga kedamaian selalu untuknya). Selamat membaca!

Kota Hantu

Berkendara dari Madinah menuju utara ke wilayah Al-'Ula adalah makanan sedap untuk mata. Lanskap-lanskap berganti dengan dramatis. Mulai dari gedung-gedung modern yang perlahan digantikan rumah-rumah tua, kemudian padang tandus yang dibatasi jejeran bukit kerikil dan batu cadas.

Scroll untuk membaca

Scroll untuk membaca

Sesekali oasis dan kebun-kebun kurma dan anggur serta delima memberi jeda warna hijau pada bentangan alam yang gersang tanpa penghuni. Kian ke utara waktu seperti berjalan kian mundur. Tak ada lagi bangunan dan manusia di bentangan alam yang mengapit jalan raya.

Sekitar empat jam perjalanan, bebatuan kuno yang menjulang tinggi seperti muncul tiba-tiba dari padang pasir. Merah bata dengan tepian-tepian tegak lurus dan halus seperti dipahat waktu. Garis-garis lapisan di sisinya memberi petunjuk soal usia bebatuan raksasa yang sudah ada saat bumi masih muda usia. Badai pasir tak jarang terjadi di sepanjang jalur tersebut.

Ujung wilayah tersebut tercatat sudah dihuni manusia sejak ribuan tahun silam. Di daerah yang kini disebut al-'Ula tersebut, sekitar dua ribu tahun silam, sempat berdiam suku kuno Arab, Lihyan, yang diperintah Dinasti Nabatea dari pusat kerajaan di wilayah Yordania saat ini. Selain pemukiman, mereka juga membangun kuburan-kuburan massif dengan memahat gunung-gunung batu di wilayah al-Hijr (Bebatuan) yang kini disebut Madain Saleh sekira 22 kilometer dari pemukiman.

Al-Ula, salah satu jalur perjalanan yang dilintasi rombongan dagang Rasulullah menuju Syam. (Fitriyan Zamzami/Republika)
Al-Ula, salah satu jalur perjalanan yang dilintasi rombongan dagang Rasulullah menuju Syam. (Fitriyan Zamzami/Republika)

Saat-saat itu pula, menurut riwayat, diutus Nabi Saleh di antara mereka yang disebut Alquran dengan nama Kaum Tsamud. Kaum tersebut mendurhakai Nabi Saleh sehingga akhirnya ditimpakan hukuman kehancuran oleh Allah SWT.

Jejak arkeologis mencatat, kediaman-kediaman Kaum Tsamud dan Kaum 'Ad ditinggal penghuninya sejak sebelum masa Rasulullah. Kendati demikian, batu-batu bekas rumah suku tersebut kembali digunakan warga yang tinggal di situ belakangan.

Pada abad ke-13, di al-'Ula merupakan perlintasan jalur perdagangan rempah-rempah. Pengelana mahsyur Ibn Battuta sempat melintasi juga wilayah itu pada abad ke-14 atau tepatnya pada 1326. Saat itu, Ibn Battuta mencatat bahwa anggota rombongan karavan yang ia sertai juga enggan berhenti untuk minum di daerah tersebut meski kehausan. Wilayah itu juga salah satu yang kerap dilintasi Rasulullah saat menjalani profesinya sebagai pedagang lintas wilayah.

Afzalurrahman dalam Muhammad Sebagai Seorang Pedagang menuturkan, Nabi Muhammad SAW kemungkinan telah memulai karier sebagai pedagang pada usia yang masih sangat muda, di antara 17-18 tahun. Sebelumnya, dia adalah penggembala.

Al-Ula, salah satu jalur perjalanan yang dilintasi rombongan dagang Rasulullah menuju Syam. (Fitriyan Zamzami/Republika)
Al-Ula, salah satu jalur perjalanan yang dilintasi rombongan dagang Rasulullah menuju Syam. (Fitriyan Zamzami/Republika)

Selepas ditinggal wafat orang tuanya, kemudian kakeknya, pamannya Abu Thalib meminta Muhammad untuk menjalankan bisnis sendiri guna meringankan bebannya mengingat kondisi ekonominya yang tak begitu kaya. Ikhtiar itu membawanya ke Yaman, Bahrain, Suriah, bahkan mungkin hingga Abysinia di Afrika.

Meski tidak memiliki uang untuk berbisnis sendiri, dia menerima modal dari para janda kaya dan anak- anak yatim yang tidak sanggup menjalankan bisnisnya sendiri. Mereka menyambut baik seseorang yang jujur untuk menjalankan bisnis dengan uang yang mereka miliki. Selama berdagang, Muhammad kerap memperoleh keuntungan dua kali lipat dibanding pedagang- pedagang lain.

Nabi telah melakukan banyak lawatan ke ber bagai kota dagang di berbagai negeri untuk Kha dijah. Beliau SAW tercatat dua kali melakukan perjalanan ke Yaman. Di sini, Muhammad disertai oleh pembantu Khadijah, Maesarah. Nama yang kelak menjadi perantara perjodohan antara Khadijah dan Muhammad.

Setelah itu, Khadijah mengirim Muhammad ke Jorasy, sebuah kota yang masih berada di sekitar Yaman. Kemudian, dua kali ke Habasyah dan yang kelima adalah perjalanan ke Suriah dalam perjalanan ke Suriah ini beliau melintasi wilayah bekas kampung kaum Nabi Saleh.

Ilustrasi pasar di Arabia karya Louis Tesson. (wikigallery)
Ilustrasi pasar di Arabia karya Louis Tesson. (wikigallery)

Kejujuran dan kecakapan Rasulullah dalam berdagang dinyatakan oleh Saib ibn Ali Saib saat peristiwa hari Fathul Makkah. Saib yang mengunjunginya mengatakan bahwa Muhammad adalah mitranya dalam berdagang. Beliau SAW selalu lurus dalam perhitungan dagang.

Pada kesempatan berbeda, Rabi ibn Badr, seorang budak dari Thalha ibn Ubaidullah melakukan kerja sama dagang dengan Nabi juga menyatakan "Kau pernah menjadi mitraku dan mitra yang paling baik pula. Engkau tidak pernah menipuku dan tidak pernah berselisih denganku."

Seperti diriwayatkan oleh Anas RA, pernah menawarkan sebuah kain pelana dan bejana untuk minum seraya berkata, "Siapa yang ingin membeli kain pelana dan bejana air minum?" Seorang laki-laki menawarnya seharga satu dirham. Dan Nabi menanyakan apakah ada orang yang akan membayar lebih mahal.Seorang laki-laki menawar kepadanya dengan harga dua dirham. Beliau SAW pun menjual barang tersebut kepadanya.

Abdullah ibn Abdul Hamzah mengatakan, "Aku telah membeli sesuatu dari Nabi sebelum ia menerima tugas kenabian, dan karena masih ada suatu urusan dengannya, maka aku menjanjikan untuk mengantarkan kepadanya, tetapi aku lupa. Ketika teringat tiga hari kemudian, aku pun pergi ke tempat tersebut dan menemukan Nabi masih berada di sana. Nabi berkata, 'Engkau telah membuatku resah, dan aku berada di sini selama tiga hari menunggumu'."

Lokasi Pasa Ukaz di Makkah saat ini. (Dok Kerajaan Saudi)
Lokasi Pasa Ukaz di Makkah saat ini. (Dok Kerajaan Saudi)

Saat menjadi pembeli, Muhammad SAW melakukan sejumlah besar transaksi pem belian dengan insting sebagai pengusaha. Salah satunya saat beliau SAW menyuruh Urwah ibn Abu al-Ja'ad al-Bariqi untuk membeli seekor biri-biri seharga satu dinar. Dengan modal dari Nabi, Urwah membeli dua ekor biri-biri. Salah satunya kembali dijual seharga satu dinar. Dengan demikian, Urwah membawakan kepada Nabi seekor biri-biri dan uang senilai satu dinar. Nabi pun memohon berkah atas transaksi dagang ini dan mengatakan bahwa Urwah memiliki bakat sehingga bila membeli sebutir debu pun, dia akan mendapatkan untung.

Pada waktu berbeda, Nabi mengirimkan uang satu dinar untuk Hakim ibn Hizam agar dibelikan seekor hewan kurban. Hakim membelikan seekor hewan kurban berupa seekor domba yang dibeli seharga satu dinar. Dia pun menjualnya kembali senilai dua dinar. Setelah itu, Hakim membeli kembali seekor hewan kurban seharga satu dinar dan membawanya bersama keuntungan satu dinar yang didapatkannya. Nabi memberikan satu dinar tadi sebagai sedekah serta memohon berkah atasnya.

Juan Cole, seorang ahli sejarah Timur Tengah menyimpulkan dalam bukunya Muhammad, Prophet of Peace Amid Clash of Empires bahwa berdasarkan catatan klasik Islam Rasulullah juga mestinya telah berulang kali melintasi wilayah-wilayah konflik ketika mengikuti maupun memimpin rombongan dagang dari Makkah ke Yordania, Syam, dan Palestina sewaktu muda.

Menurut dia, perjalanan-perjalanan itu membekali Muhammad muda dengan pandangan yang luas soal bangsa-bangsa lain, dan pada akhirnya akan sangat krusial menentukan arah perjalanan Islam di tengah-tengah perang tanpa akhir Bizantium dan Sasaniah saat itu.

Sementara dalam riwayat Ibn Hisham dan Atthabari, Muhammad dikabarkan bertemu dengan Bahira, seorang pendeta Kristen di Busrah, Suriah, dalam salah satu perjalanan dagang itu saat berusia sembilan atau 12 tahun. Bahira diriwayatkan mengenali tanda-tanda kenabian Muhammad SAW dan meminta pamannya, Abu Thalib, melindungi beliau dari kaum Yahudi atau Kristen Bizantium merujuk riwayat at-Tabari.

David L Lewis, dalam bukunya “Gods Crucible (2008)” mengutip orientalis Edward Gibbons yang berpandangan bahwa semisal Bizantium maupun Sasaniah merangsek terus ke Hijaz dan Najd saat itu, ajaran yang nantinya dibawa Rasulullah tak mungkin bisa bersemi dan tumbuh jadi kekuatan yang merevolusi peradaban dunia. []

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

Tentang sejarah Tanah Air, dunia, dan peradaban Islam.

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

Kategori

× Image