Saat Pendaratan Bulan Membelah Masyarakat

Sejarah  

Hingga saat ini, Pak Sukri (70 tahun) sukar melupakan masa-masa dikampungya di Majalengka pada akhir dekade 1960-an itu. Hampir setiap hari ada saja yang bertengkar dan saling debat.

Tak begitu berbeda dengan saat-saat menjelang pilpres belakangan, masyarakat kala itu terbelah. Tetangga lawan tetangga, saudara lawan saudara. Persoalannya sederhana sebenarnya, orang-orang tak sepakat soal benar tidaknya manusia sudah mendaratkan kaki di Bulan.

Pada 20 Juli 1969 tersebut, Amerika Serikat mengumumkan keberhasilan tiga astronot mereka mencapai Bulan. "Langkah kecil seorang manusia dan lompatan raksasa umat manusia," kata Neil Armstrong salah satu astronot tersebut dalam pesannya saat menginjakkan kaki ke permukaan bulan. Capaian tersebut adalah klimaks dari bertahun-tahun lomba mengeksplorasi luar angkasa melawan Uni Soviet.

Scroll untuk membaca

Scroll untuk membaca

Foto pendaratan di Bulan. (NASA) 
Foto pendaratan di Bulan. (NASA)

"Jadi ada dua kubu, yang percaya sama yang tidak percaya. Bertengkar terus," tutur Pak Sukri sembari tersenyum. Ia mendaku termasuk golongan yang percaya. Bukan kebetulan, ia juga satu-satunya di kampung yang melanjutkan sekolah ke tingkat SMP.

Almarhum Alwi Shahab, wartawan senior Republika, mengenang juga perdebatan tersebut di Jakarta. "Numpak (naik) kereta api saja dari Jakarta pagi hari baru nyampe di Surabaya malam hari," kata Abah Alwi mengutip seseorang dari sebuah desa yang bekerja di Jakarta.

Nurman Kholis, seorang peneliti di Puslitbang Lektur dan Khazanah Keagamaan, Balitbang dan Diklat Kemenag, menulis di Republika pada 2012, tahun meninggalnya Armstrong, bahwa pada akhirnya polemik itu sampai ke para ulama.

"Sebagaimana disampaikan seorang pembaca dalam majalah Gema Islam No 21 Tahun I, 1 Desember 1962 kepada Buya Hamka, 'Saya bertanya kepada seorang ulama terkemuka di tempat saya. Beliau menyatakan, ‘Jika manusia mendarat di Bulan maka batallah kerasulan Nabi Muhammad SAW’'.

Hamka pun menjawab, justru pendaratan tersebut akan membuat semakin nyata kerasulan Nabi Muhammad SAW. Salah satu argumentasinya adalah firman Allah, 'Wahai sekalian jin dan manusia, jika kamu mampu menembus dari ruang angkasa langit dan Bumi maka tembuslah. Tetapi, tidaklah kamu akan dapat menembusnya, kecuali dengan ‘sulthan’ (QS ar-Rahman:33)'. Menurut Hamka, 'sulthan' itu berarti pengetahuan. Ia pun menjelaskan orang yang tidak meyakini manusia dapat mendarat di Bulan karena masih menggunakan tafsir karya ulama 300 atau 700 tahun yang lalu," tulis Nurman Kholis.

Nurman mencatat, KH Mansur Jufri dalam bukunya Al-Masail Jilid II yang diterbitkan di Sukabumi, September 1969, juga berpandangan serupa. Ia juga menjadikan ar-Rahman ayat 33 sebagai salah satu argumentasinya. Menurut KH Mansur, berita pendaratan tersebut justru akan memperkuat iman atas kebenaran miraj Nabi Muhammad SAW.

Selepas banyak ulama berpendapat itulah kemudian perdebatan di masyarakat mulai mereda. Di Majalengka, kata Pak Sukri, masyarakat akhirnya bisa rukun kembali.

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

Tentang sejarah Tanah Air, dunia, dan peradaban Islam.

Kekerasan Bersenjata di AS dalam Angka

Era Keemasan Baru Ilmuwan Muslimah

Pendidik Muslimah di Masa Kolonial

Para Ilmuwan Muslimah Abad Keemasan

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

Kategori

× Image